Bahaya Suntikan Vaksin dan Imunisasi.

Bahaya Suntikan Vaksin dan Imunisasi.

 

Imunisasi: Satu Konspirasi.

Jika kita melihat sejarah vaksin moden yang dilakukan oleh Flexner Brothers, kita dapat menemukan kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia telah dibiayai oleh Keluarga Rockefeller.

Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia, dan mereka adalah bagian dari Zionis Internasional. Dan kenyataannya, mereka adalah pengasas WHO dan badan-badan strategik lainnya :

The UN’s WHO was established by the Rockefeller family’s foundation in 1948– the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government’s National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation’s Public Health Service (PHS).~ (Dr. Leonard Horowitz, “WHO Issues H1N1 Swine Flu Propaganda”)

Jika dilihat dari latar belakang WHO, jelas bahwa vaksinasi moden (imunisasi) adalah salah satu campur tangan (konspirasi) Zionisme dengan tujuan untuk menguasai dan memperhambakan seluruh dunia dalam “New World Order” mereka.

Apa Kata Para Akademik Tentang Vaksinasi?

Satu-satunya vaksin yang baik adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.”~ Dr. James R. Shannon, mantan pengarah Institusi Kesihatan Nasional Amerika.

Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.”~ Dr. Richard Moskowitz, Harvard University.

Kanser pada dasarnya tidak dikenali sebelum kewajiban vaksinasi cacar mula diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kes kanser, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanser itu tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.”~ Dr. W.B. Clarke, pengkaji kanser.

Ketika vaksin dikatakan selamat, keselamatannya adalah istilah relatif yang tidak dapat diertikan secara umum”.~ Dr. Harris Coulter, pakar vaksin.

Kes polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.”~ Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962.

Sebelum vaksinasi besar besaran 50 tahun yang lalu, di negara itu (Amerika) tidak terdapat wabak kanser, penyakit autoimun, dan kes autisme.”~ Neil Z. Miller, pengkaji vaksin.

Vaksin punca terhadap peningkatan jumlah anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan sistem imun, hiperaktif, kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan kronik, lumpuh, artritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang tidak pernah dikenali dua dekad lalu, menjadi wabak di seluruh dunia saat ini.”~ Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional Amerika.

Tak masuk akal memikirkan bahwa anda dapat menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil. Tubuh mempunyai cara pertahanan tersendiri yang bergantung pada vitaliti ketika itu. Jika dalam keadaan sihat, tubuh akan mampu melawan semua jangkitan, dan jika keadaannya sedang menurun, ia tidak akan mampu. Dan anda tidak dapat mengubah kesihatan tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun ke dalamnya.”~ Dr. William Hay, “Immunisation: The Reality behind the Myth”.
Dan masih banyak lagi pendapat ilmuwan yang lainnya.

Di Jerman para pengamal perubatan menolak imunisasi campak. Penolakan itu diterbitkan dalam “Journal of the American Medical Association” (20 Februari 1981) yang berisi sebuah artikel dengan judul “Rubella Vaccine in Susceptible Hospital Employees, Poor Physician Participation”. Dalam artikel itu disebutkan bahwa lebih kurang 90% pakar obstetrik dan 66% pakar pediatrik menolak suntikan vaksin rubella.

Apa rahsia di sebalik vaksin dan imunisasi?

Kandungan kimia berbahaya dalam vaksin.

Vaksin mengandung substansi berbahaya yang diperlukan untuk mencegah jangkitan dan meningkatkan keupayaan vaksin. Seperti merkuri,formaldehyde, dan aluminium, yang dapat membawa kesan jangka panjang seperti sakit mental, autisme, hiperaktif. alzheimer, kemandulan, dll. Dalam 10 tahun ini, jumlah anak autisme meningkat dari antara 200 – 500 % di setiap bagian di Amerika.

Babi dalam Vaksin.
Penggunaan asid amino binatang babi dalam vaksin bukanlah berita yang baru. Malah kaum Muslim dan Yahudi banyak yang menentang hal ini karena babi memang diharamkan, seperti dalil dalam Qur’an ayat berikut :

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging haiwan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Qur’an surahAl-Maidah (5) ayat 3

Bahkan dalam Perjanjian Lama (Taurat) juga disebutkan :
Jangan makan babi. Binatang itu haram karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak. Dagingnya tidak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh disentuh karena binatang itu haram.Imamat 11 : 7-8

Bencana akibat vaksin yang tidak pernah diberitakan.

• Di Amerika pada tahun 1991 – 1994 sebanyak 38.787 masalah kesihatan telah dilaporkan kepada Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS)FDA. Dari jumlah ini 45% terjadi pada hari vaksinasi, 20% pada hari berikutnya dan 93% dalam waktu 2 minggu setelah vaksinasi. Kematian biasanya terjadi di kalangan anak anak berusia 1-3 bulan.

• Pada 1986 ada 1300 kes pertussis di Kansas dan 90% pesakit adalah anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi ini sebelumnya. Kegagalan yang sama juga terjadi di Nova Scotia di mana pertussis telah muncul sekalipun telah dilakukan vaksinasi universal.

• Jerman mewajibkan vaksinasi tahun 1939. Jumlah kes diphtheria meningkat menjadi 150.000 kes, sementara pada tahun yang sama, Norway yang tidak melakukan vaksinasi, kes diphtheria nya hanya sebanyak 50 kes.

• Penularan polio dalam skala besar, menyerang anak-anak di Nigeria Utara berpenduduk muslim. Hal itu terjadi setelah diberikan vaksinasi polio, sumbangan AS untuk penduduk muslim. Beberapa pemimpin Islam tempatan menuduh kerajaan Nigeria bersubahat dengan Amerika untuk membunuh orang-orang Muslim dengan menggunakan vaksin.

• Tahun 1989-1991 vaksin campak ”high titre” buatan Yugoslavia Edmonton-Zagreb diuji pada 1500 anak-anak miskin keturunan orang hitam dan latin, di Los Angeles, Mexico, Haiti dan Afrika. Vaksin tersebut dicadangkan oleh WHO. Program dihentikan setelah di dapati banyak anak-anak meninggal dunia dalam jumlah yang besar.

• Vaksin campak menyebabkan penindasan terhadap sistem ketahanan tubuh anak-anak selama 6 bulan hingga 3 tahun. Akibatnya anak-anak yang diberi vaksin mengalami penurunan ketahanan tubuh dan ramai yang meninggal dunia berbanding penyakit-penyakit lain. WHO kemudian menarik vaksin-vaksin tersebut dari pasaran di tahun 1992.

• Setiap program vaksin dari WHO dilaksanakan di Afrika dan Negara-negara dunia ketiga lainnya, selalu saja ada jangkitan penyakit-penyakit berbahaya di lokasi program vaksin dilakukan. Virus HIV penyebab Aids diperkenalkan ketika program WHO bersama komuniti homoseksual melalui vaksin hepatitis dan masuk ke Afrika Tengah melalui vaksin cacar.

• Disember 2002, Menteri Kesihatan Amerika, Tommy G. Thompson menyatakan, tidak merancang memberi suntikan vaksin cacar. Dia juga mencadangkan kepada anggota kabinet lainnya untuk tidak meminta pelaksaanaan vaksin itu. Sejak vaksinasi diterapkan pada jutaan bayi, banyak dilaporkan berbagai gangguan serius pada otak, jantung, sistem metabolisme, dan gangguan lain mulai mengisi halaman-halaman jurnal kesihatan.

• Vaksin untuk janin adalah punca encephalomyelitis, dengan indikasi terjadi pembengkakan otak dan pendarahan di dalam. Bart Classen, seorang doktor dari Maryland, menerbitkan data yang memperlihatkan bahawa kadar penyakit diabetes berkembang secara signifikan di New Zealand, setelah vaksin hepatitis B diberikan di kalangan anak-anak.

• Vaksin meningococcal merupakan ”Bom jangka bagi kesihatan penerima vaksin.”

• Anak-anak di Amerika Syarikat mendapatkan vaksin yang berpotensi membahayakan dan dapat menyebabkan kerosakan yang kekal. Berbagai macam imunisasi misalnya, Vaksin-vaksin seperti Hepatitis B, DPT, Polio, MMR, Varicela (Cacar air) terbukti telah banyak mengorbankan anak-anak Amerika sendiri, mereka menderita sakit saraf, anak-anak cacat, diabetes, autisme, autoimun dan lain-lain.

• Vaksin cacar dipercayai boleh memberikan imunisasi kepada masyarakat terhadap cacar. Pada saat vaksin ini dilancarkan, sebenarnya kes cacar sudah sedang menurun. Jepun mewajibkan suntikan vaksin pada 1872. Pada 1892, ada 165.774 kes cacar dengan 29.979 berakhir dengan kematian walaupun adanya program vaksin.

• Pemaksaan vaksin cacar, dimana orang yang menolak boleh dijatuhkan hukuman, dilakukan di England tahun 1867. Dalam 4 tahun, 97.5% masyarakat berusia 2 sampai 50 tahun telah divaksinasi. Setahun kemudian England merasakan epidemik @ wabak cacar terburuknya dalam sejarah dengan 44.840kematian. Antara 1871 – 1880 kes cacar meningkat dari 28 menjadi 46 per 100.000 orang. Vaksin cacar tidak berhasil.

Mengapa vaksin gagal melindungi tubuh terhadap penyakit?

Walene James, pengarang buku Immunization: the Reality Behind The Myth, mengatakan respon inflamatori penuh diperlukan untuk menciptakan kekebalan nyata. Sebelum pengenalan vaksin cacar dan beguk, kes cacar dan beguk yang menimpa anak-anak adalah kes tidak berbahaya. Vaksin mengganggu tubuh sehingga tubuh kita tidak menghasilkan respon inflamatory terhadap virus yang disuntik.

SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) meningkat dari 0.55 per 1000 orang pada 1953 menjadi 12.8 per 1000 pada 1992 di Olmstead County, Minnesota. Puncak kejadian SIDS adalah umur 2 – 4 bulan, waktu dimana vaksin mulai diberikan kepada bayi. 85% kes SIDS terjadi di 6 bulan pertama bayi. Peratus kes SIDS telah naik dari 2.5 per 1000 menjadi 17.9 per 1000 dari 1953 sampai 1992. Peningkatan kematian akibat SIDS meningkat pada saat hampir semua penyakit anak-anak menurun karena kesedaran kebersihan dan kemajuan perubatan kecuali SIDS. Kes kematian SIDS meningkat pada saat jumlah vaksin yang diberikan kepada bayi naik secara meyakinkan menjadi 36 per anak.

Dr. W. Torch telah merekodkan 12 kes kematian pada anak-anak yang terjadi dalam 3,5 – 19 jam selepas imunisasi DPT. Dia juga melaporkan 11 kes kematian SIDS dan satu yang hampir mati 24 jam selepas suntikan DPT. Semasa dia mengkaji 70 kes kematian SIDS, 2/3 korban adalah mereka yang baru divaksinasi mulai dari 1,5 hari sampai 3 minggu sebelumnya.

Tidak ada satu kematian pun yang dihubungkan dengan vaksin. Vaksin dianggap hal yang mulia dan tidak ada berita negatif apapun mengenainya di media utama karena ia begitu menguntungkan bagi perniagaan farmasi.

Ada alasan yang kukuh untuk percaya bahwa vaksin bukan saja tak berguna dalam mencegah penyakit, tetapi ia juga kontraproduktif karena melemahkan sistem ketahanan yang meningkatkan risiko kanser, penyakit kurang ketahanan tubuh, dan SIDS yang menyebabkan cacat dan kematian.

Adakah imunisasi menurut Islam?

Ada! Bahkan Rasulullah sendiri yang mengajar dan mencadangkannya.
Imam Bukhari dalam Shahih-nya men-takhrij hadits dari Asma’ binti Abi Bakr:

Dari Asma’ binti Abu Bakr bahwa dirinya ketika sedang mengandung Abdullah ibn Zubair di Mekah mengatakan, “Saya keluar dan aku sempurna hamilku 9 bulan, lalu aku datang ke Madinah, aku turun di Quba’ dan aku melahirkan di sana, lalu aku pun mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, maka beliau Shalallaahu alaihi wasalam menaruh Abdullah ibn Zubair di dalam kamarnya, lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam meminta kurma lalu mengunyahnya, kemudian beliau Shalallaahu alaihi wasalam memasukkan kurma yang sudah lumat itu ke dalam mulut Abdullah ibn Zubair. Dan itu adalah makanan yang pertama kali masuk ke mulutnya melalui Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, kemudian beliau men-tahnik-nya, lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam pun mendo’akannya dan mendoakan keberkahan kepadanya.

Dalam shahihain -Shahih Bukhari dan Muslim- dari Abu Musa Al-Asy’ariy, “Anakku lahir, lalu aku membawa dan mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam memberinya nama Ibrahim dan kemudian men-tahnik-nya dengan kurma.” dalam riwayat Imam Bukhari ada tambahan: “maka beliau SAW mendoakan kebaikan dan memdoakan keberkahan baginya, lalu menyerahkan kembali kepadaku.”

Bayi dilahirkan dalam keadaan kekurangan glukosa. Bahkan apabila tubuhnya menguning, maka bayi tersebut dipastikan memerlukan glukosa dalam keadaan yang cukup untuknya. Berat bayi saat lahir juga mempengaruhi kandungan glukosa dalam tubuhnya.

Pada kes bayi pramatang yang beratnya kurang dari 2,5 kg, maka kandungan zat gulanya sangat kecil sekali, dimana pada sebagian kes malah kurang dari 20 mg/100 ml darah. Adapun anak yang lahir dengan berat badan di atas 2,5 kg maka kadar gula dalam darahnya biasanya di atas 30 mg/100 ml.
Kadar semacam ini berarti (20 atau 30 mg/100 ml darah) merupakan keadaan bahaya dalam ukuran kadar gula dalam darah.

Hal ini boleh menyebabkan terjadinya berbagai penyakit, seperti bayi menolak untuk menyusu, otot-otot bayi lemah, aktiviti pernafasan terganggu dan kulit bayi menjadi kebiruan, kontraksi atau kejang-kejang. Kadang-kala boleh juga menyebabkan sejumlah penyakit yang berbahaya dan lama, seperti insomnia, lemah otak, gangguan saraf, gangguan pendengaran, penglihatan, atau kedua-duanya.

Apabila hal-hal di atas tidak segera diatasi atau diubati maka boleh menyebabkan kematian. Padahal ubat untuk itu adalah sangat mudah, yaitu memberikan zat gula yang berbentuk glukosa melalui infus, samada melalui mulut, mahupun pembuluh darah.Majoriti atau bahkan semua bayi memerlukan zat gula dalam bentuk glukosa seketika setelah lahir, maka memberikan kurma yang sudah dilumat boleh menjauhkan sang bayi dari kekurangan kadar gula.

Disunnahkan tahnik kepada bayi adalah ubat sekaligus tindakan pencegahan yang memiliki fungsi penting, dan ini adalah mukjizat kenabian Muhammad SAW secara perubatan dimana sejarah kemanusiaan tidak pernah mengetahui hal itu sebelumnya, bahkan kini manusia tahu bahayanya kekurangan kadar glukosa dalam darah bayi. Tahnik sebaiknya dilakukan oleh orang-orang yang beriman kepada Allah, atau dapat pula dilakukan ayah atau ibu sang bayi.

Imunisasi yang selama ini digembar-gemburkan oleh Zionis dapat memberi masalah yang sangat serius bagi kehidupan penduduk dunia. Mereka yang bertujuan untuk menjadikan bangsa lainnya berada di bawah kekuasaan mereka dengan berbagai cara. Kini saatnya kita membuka mata dan bertanya pada hati nurani kita dengan berbagai propaganda yang mereka lakukan. Bahkan Allah telah menyuruh kita berhati-hati terdadap berita dari mereka :

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”Qur’an surah Al-Hujuraat (49) : 6

Bahaya Tersembunyi Dalam Vaksin

Apakah Vaksin Itu?

Vaksinasi telah menjadi tulang belakang kesihatan masyarakat sejak dulu. Apabila penyakit berjangkit, vaksinasi muncul dalam benak kita. Ia adalah suntikan kesihatan yang dianggap doktor (bahkan badan-badan kesihatan negara) sangat penting sebagai pelindung dari serangan penyakit.

Tujuan Vaksinasi adalah meniru proses penularan penyakit alami dengan kaedah tiruan. Vaksin itu sendiri adalah suntikan yang mengandung berbagai jenis racun yang dimasukkan ke dalam tubuh. Jika anda menyangka vaksin dapat membasmi kuman atau bebas dari kuman, dugaan anda meleset.

Cara Membuat Vaksin

Vaksin dihasilkan dari kuman (atau bagian dari tubuh kuman) yang menyebabkan penyakit. Sebagai contoh vaksin campak dihasilkan dari virus campak, vaksin polio dihasilkan dari virus polio, vaksin cacar dihasilkan dari virus cacar, dll. Perbezaannya terletak pada cara pembuatan vaksin tersebut.

Terdapat 2 jenis vaksin, hidup dan mati. Untuk membuat vaksin hidup, virus hidup dilemahkan dengan melepaskan virus ke dalam tisu organ dan darah binatang (seperti ginjal monyet dan anjing, embrio anak ayam, protein telur ayam dan itk, serum janin lembu, otak kelinci, darah babi atau kuda dan nanah cacar lembu) beberapa kali (dengan proses bertahap) hingga kurang lebih 50 kali untuk mengurangi potensinya.

Sebagai contoh virus campak dilepaskan kedalam embrio anak ayam, virus polio menggunakan ginjal monyet, dan virus Rubela menggunakan sel-sel diploid manusia (bagian tubuh janin yang digugurkan). Sedangkan vaksin yang mati dilemahkan dengan pemanasan, radiasi atau reaksi kimia.

Kuman yang lemah ini kemudian dikuatkan dengan Adjuvan (perangsang anti bodi) dan stabilisator (sebagai pengawet untuk mempertahankan khasiat vaksin selama disimpan). Hal ini dilakukan dengan menambah ubat, antibiotik dan bahan kimia beracun ke dalam campuran tersebut seperti: neomycin, streptomycin, natrium klorida, natrium hidroksida, alumunium hidroksida, alumunium fospat, sorbitol, gelatin hasil hidrolisis, formaldehid, formalin, monosodium glutamat, pewarna merah fenol, fenoksietanol (anti beku), kalium difospat, hidrolysate kasein pankreas babi, sorbitol dan thimerosal (raksa). (Menurut Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit (CDC) US juga menurut Psician’s Desk Reference).

Campuran virus atau bakteria, bahan kimia beracun dan bagian tubuh binatang yang berpenyakit inilah yang disuntik ke dalam tubuh anak atau orang dewasa ketika mendapatkan vaksinasi. Menurut CDC US, bahan tambahan dicampurkan ke dalam vaksin untuk meningkatkan reaksi imun, mencegah pencemaran mikrob dan memperkuat formula vaksin, serta untuk memastikan vaksin tersebut stabil, bebas kuman dan aman. Namun benarkah anggapan ini?

Bagaimana Vaksin Dihasilkan?

Macam-macam vaksin:

– Vaksin DPT (Difteria, Pertusis dan Tetanus)

– Vaksin DtaP (Difteria, Tetanus, dan Acellular Pertusis)

– Vaksin MMR (Campak, Beguk dan Rubela)

– Vaksin Polio hidup oral (OPV)

– Vaksin Polio tidak aktif (IPV)

– Vaksin Hepatitis B

– Vaksin Hib

– Vaksin Varicellazostrer (Cacar Air)

– Vaksin Cacar

Dalam buku The Consumer’s Guide to Childhood Vaccines, Barbara Loe Fisher, pengasas dan presiden pusat informasi vaksin nasional (yang didirikan untuk mencegah kerosakan tubuh dan kematian akibat vaksin melalui pendidikan umum) menjelaskan proses pembuatan vaksin sebagai berikut :

Vaksin Cacar : Perut anak lembu dicukur kemudian diberikan banyak torehan pada kulitnya. Kemudian virus cacar dititiskan pada torehan itu dan dibiarkan bernanah selama beberapa hari. Anak lembu tersebut dibiarkan berdiri dengan kepala terikat supaya tidak dapat menjilat perutnya. Kemudian anak lembu itu dikeluarkan dari kandang dan dibaringkan di atas meja. Perutnya memburuk dan bernanah, nanahnya diambil lalu dijadikan serbuk. Serbuk itu adalah bahan vaksin cacar, virus yang kebetulan terdapat pada anak lembu itu terbawa ke dalamnya. (Walene James, Pengarang Immunization: The Reality Beyond the Myth)

Reaksi Tubuh Terhadap Vaksin

Apabila ramuan vaksin tersebut memasuki aliran darah anak. Tubuhnya akan segera bertindak untuk menyingkirkan racun tersebut melalui organ ekresi atau melalui reaksi imun seperti demam, bengkak atau ruam pada kulit. Apabila tubuh anak kuat untuk meningkatkan reaksi imun, tubuh anak mungkin akan berhasil menyingkirkan vaksin tersebut dan mencegahnya terjangkit kembali di masa yang akan datang. Akan tetapi jika tubuh anak tidak kuat untuk meningkatkan reaksi imun, vaksin beracun akan bertahan dalam tisu tubuh.

Timbunan racun ini dapat menyebabkan penyakit seperti diabetes pada anak-anak, asma, penyakit neurologi, leukimia, bahkan kematian mendadak. Ratusan laporan mencatat kesan sampingan jangka panjang yang buruk berkaitan vaksin seperti penyakit radang usus, autisme, esenfalitis kronis, skelerosis multipel, artritis reumatoid dan kanser. Sebagian vaksin juga diketahui menyebabkan kesan sampingan jangka pendek yang serius.

Pada 12 Julai 2002, Reuters News Service melaporkan hampir 1000 pelajar sekolah dibawa ke hospital setelah disuntik vaksin Ensefalitis di timur laut negara China. Para pelajar itu mengalami demam, lemah, muntah dan dalam beberapa kes terkena serangan jantung setelah divaksinasi.

Kerosakan Tubuh Akibat Vaksin

• Menurut analisa bebas dari data yang dikeluarkan Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) di US, pada tahun 1996 terdapat 872 tragedi yang dilaporkan kepada VAERS, melibatkan anak-anak dibawah 14 tahun yang disuntik vaksin Hepatitis B. Anak-anak tersebut dibawa ke wad ICU hospital karena mengalami masalah kesihatan yang mengancam nyawa. Sebanyak 48 anak dilaporkan meninggal setelah mendapatkan suntikan vaksin tersebut.

• Informasi kesihatan juga dipenuhi contoh yang mengaitkan vaksin dengan timbulnya penyakit. Vaksin telah dikaitkan dengan kerosakan otak, IQ rendah, gangguan konsentrasi, kemampuan belajar kurang, autisme, neurologi.

• Vaksin beguk dan campak yang diberikan pada anak-anak misalnya telah menyebabkan kerosakan otak, kanser, diabetes, leukimia, hingga kematian (sindrom kematian bayi mendadak).

• Kajian tahun 1992 yang diterbitkan dalam The American Journal of Epidemiology menunjukkan peningkatan kematian anak-anak meningkat hingga 8 kali ganda pada jangka waktu 3 hari setelah mendapat suntikan vaksin DPT.

• Kajian awal oleh CDC US mendapati anak yang menerima vaksin Hib berisiko 5 kali lebih mudah mengidap penyakit tersebut dibandingkan anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin tersebut.

• Pada tahun 1977, Dr Jonas Salk (Penemu vaksin Polio salk) mengeluarkan kenyataan bersama ilmuan lain bahwa 87% dari kes Polio yang terjadi sejak tahun1970 adalah akibat dari vaksin Polio.

• Di US sebelum tahun 1980 terdapat 1 dari 10.000 anak menderita autisme. Pada tahun 2002 Institut Kesihatan Negeri US mencatat peningkatan angka tersebut menjadi 250 dari 10.000. Kini persatuan orang tua penderita autisme Amerika memperkirakan peningkatan kes autisme ± 10% per tahun. Vaksin yang mengandungi raksa diyakini sebagai penyebabnya.

• Menurut Boyd Haley, pengurus program kimia Universiti Kentucky dan pakar logam beracun berkata ”Thimerosal mampu meresap di protein otak, ia sangat beracun bagi saraf dan enzim” Haley pun terlibat dalam penelitian pada bulan Ogos tahun 2003, mendapati banyaknya kandungan raksa pada penderita autisme, yang dapat dianalisa melalui kadar raksa pada rambut mereka yang bermaksud etil raksa dari thimerosal telah meresap ke dalam otak dan organ tubuh lainnya sangat bepotensi menyebabkan kerosakan sistem saraf dan mengganggu fungsi ginjal.

• Menurut San Jose Mercury News (6 Julai 2002), seorang dari sepuluh anak-anak dan remaja US mengalami kelemahan fizikal dan mental, menurut pengamatan tahun 2000 terdapat pertambahan mendadak angka kecacatan pada penduduk usia muda. Sedangkan pada tahun sebelumnya data menunjukkan peningkatan kecacatan pada anak-anak.

• Sampai usia 2 tahun, anak-anak Amerika dilaporkan telah menerima 237 mikrogram raksa melalui vaksin. Kadar ini melebihi had yang ditetapkan Organisasi Perlindungan Alam US yaitu 1/10 mikrogram per hari.

• Sebuah penemuan di Amerika menunjukan bahwa vaksin Hepatitis B mengandungi 12 mcg raksa (30 kali ganda dari had), DtaP dan Hib mengandungi 50 mcg raksa (60 kali ganda dari had) dan Polio mengandungi 62,5 mcg raksa (78 kali ganda dari had).

• Di US hari ini kes asma, diabetes dan penyakit auto imun pada usia anak telah meningkat 20 kali lganda dari tahun sebelumnya. Gangguan konsentrasi telah meningkat 3 kali ganda.

• Setiap tahun 25.000 bayi Amerika mengalami kematian mendadak. Vaksinasi adalah penyebab terbesar kematian mendadak. Jepun telah meningkatkan usia penerima vaksin sehingga 2 tahun kemudian angka kematian mendadak turun drastik di negara itu (Cherry, et al, 198

• Sweden menghentikan vaksinasi batuk kokol pada tahun 1979 karena ternyata wabak penyakit ini terjadi pada anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi. Setelah itu penyakit ini menjadi penyakit ringan tanpa kes kematian. Hal ini secara nyata menunjukkan bahwa vaksin sebenarnya menyebarkan penyakit.

• Pada tahun 1975, Jerman menghentikan kewajiban vaksin Pertussis, dan jumlah anak yang mengalami penyakit itu turun drastik. Pada tahun 2000 jumlahnya turun sampai 10%.

Bukti di atas menjadikan vaksinasi layak dipersoalkan. Fakta-fakta menjelaskan bahwa vaksin tidak meningkatkan kesihatan anak-anak. Tetapi anehnya vaksin terus-menerus dibuat dan diwajibkan kepada masyarakat.

Sarat Dengan Kimia Beracun

Dapat dikatakan semua jenis vaksin mengandungi racun. Dalam banyak keadaan bahan tambahan vaksin (penguat, peneutral, pengawet dan agen pembawa) jauh lebih beracun daripada komponen virus atau bakteria dalam vaksin tersebut. Misalnya agen penyebab kanser iaitu formaldehid dan thimerosal dapat merosakkan otak.

Tidak ada orang tua yang berfikir untuk memberi makan anaknya dengan formaldehid (pengawet mayat), raksa atau alumunium fosfat. Akan tetapi dengan suntikan vaksin bahan-bahan ini masuk secara langsung ke dalam aliran darah.

Berikut adalah informasi mengenai risiko kesihatan yang ditimbulkan oleh sebahagian bahan beracun utama dalam vaksin, yang disusun dari berbagai sumber termasuk dari Persatuan Pemerhati Vaksin Australia:

• Alumunium: dapat meracuni darah, saraf,pernafasan, mengganggu sistem imun dan saraf seumur hidup. Dinyatakan sebagai penyebab kerosakan otak, hilang ingatan sementara, kejang dan koma. (Catatan: dalam jumlah sedikit tidak beracun dan mungkin bermanfaat bagi tubuh. Namun kadarnya dalam vaksin amat tinggi, sekitar 0,5%)

• Ammonium Sulfat: dapat meracuni sistem pencernaan, hati, saraf dan sistem pernafasan.

• Ampotericin B: Sejenis ubat yang digunakan untuk mencegah penyakit kulit. kesan sampingannya adalah menyebabkan pembekuan darah, bentuk sel darah merah menjadi tidak sempurna, masalah ginjal, kelesuan dan demam dan alergi pada kulit.

• Beta-Propiolactone: diketahui menyebabkan kanser, meracuni sistem pencernaan, hati, sistem pernafasan, kulit dan organ genital.

• Kasein: pelekat yang kuat, sering digunakan untuk melekatkan label pada botol. Walaupun dihasilkan dari susu, di dalam tubuh kasein dianggap protein asing yang beracun.

• Formaldehid: penyebab kanser. Bahan ini lebih berbahaya dibanding sebagian bahan kimia lain.

• Formalin: Salah satu turunan dari formaldehid. Formalin adalah campuran 37%-40% formaldehid, air dan biasanya 10% metanol. Formalin adalah peringkat ke 5 dari 12 bahan kimia yang paling berbahaya.(Enviromental Defense Fund, US)

• Monosodium Glutamat (MSG): bagi orang yang alergi pada MSG mungkin akan mengalami perasaan seperti terbakar di belakang leher, lengan dan punggung atau mengalami sakit dada, sakit kepala, lesu, denyut jantung cepat dan kesulitan bernafas. Menurut Badan Pengawas Ubat dan Makanan (FDA) US, suntikan glutamate dalam haiwan menyebabkan kerosakan sel saraf otak.

• Neomycin: antibiotik ini mengganggu penyerapan vitamin B6. Kekurangan vitamin B6 dapat menyebabkan epilepsi dan cacat mental.

• Fenol: digunakan dalam pembuatan disinfektan, pewarna, industri farmasi, plastik dan bahan pengawet. Fenol dapat menyebabkan keracunan sistemik, kelemahan, berpeluh, sakit kepala, muntah-muntah, gangguan mental, syok, hipersensitif, kerosakan ginjal, kejang, gagal jantung atau ginjal dan kematian.

• Fenoksi Etanol (anti beku): menimbulkan bau badan tidak sedap, kerosakan pencernaan, kebutaan, koma dan kematian.

• Polysorbate 20 dan Polysorbate 80: bahan yang meracuni kulit atau organ genital.

• Sorbitol: menyebabkan kerosakan sistem usus.

• Thimerosal: merupakan unsur ke 2 yang paling beracun kepada manusia setelah uranium. Dapat merosak otak dan sistem saraf juga dapat membawa pada penyakit autoimun.

12 Hal Yang Harus Diperhatikan

1. Doktor tidak mampu menjamin keselamatan dan keberkesanan vaksin.

2. Keselamatan vaksin belum diuji dengan benar.

3. Vaksinasi didasarkan pada prinsip yang tidak kukuh, sehingga dapat dipersoalkan.

4. Vaksin mungkin tercemar.

5. Kesan sampingan jangka panjang yang serius.

6. Menimbulkan penyakit yang seharusnya dapat disembuhkan.

7. Tidak dapat melindungi dari penyakit menular.

8. Vaksin berhubungan dengan wabak penyakit.

9. Vaksin tidak dapat dipercayai – vaksin tidak menghalang terhadap penyakit tetapi menghalang terhadap kesihatan.

10. Doktor dan profesional kesihatan jarang melaporkan kesan buruk vaksin.

11. Doktor menolak vaksinasi.

12. Vaksinasi lebih mengutamakan keuntungan daripada mengubati.

Para Doktor dan Ilmuan Membantah Vaksinasi

• • “Terdapat banyak bukti yang menunjukkan imunisasi terhadap anak lebih banyak merugikan dari pada manfaatnya.” (dr. J Anthony Morris, mantan Ketua Pengawas Vaksin

• • “Ancaman terbesar serangan penyakit anak-anak datang dari usia pencegahan yang tidak efektif dan berbahaya melalui imunisasi besar-besaran.” (dr. R. Mendelsohn, Penulis (How to Raise A Healthy Child In Spite Of Your Doctor dan Profesor Pediatrik).

• • “Semua vaksinasi berfungsi mengubah tiga situasi darah kepada ciri-ciri kanser dan leukemia…Vaksin DO dapat menyebabkan kanser dan leukemia.” (Profesor L.C. Vincent, penggagas Bioelektronika).

• • “Data rasmi menunjukkan vaksinasi berskala besar di US gagal memberikan kemajuan yang signifikan dalam pencegahan penyakit yang seharusnya dapat ia lindungi.” (dr. A. Sabin, pengembang vaksin Polio Oral, dalam kuliahnya di hadapan doktor-doktor Itali di Piacenza, Itali, 7 Disember 1985).

• • “Selain telah nyata banyak kes kematian akibat program ini, terdapat juga bahaya jangka panjang yang hampir mustahil diukur dengan pasti…Terdapat sejumlah bahaya dalam seluruh prosedur vaksin yang seharusnya mencegah penggunaan yang terlalu banyak atau tidak wajar.” (Sir Graham Wilson dalam The Hazards of Immunization).

• • “Dengan mengenepikan fakta bahawa vaksin berpeluang besar tercemar virus binatang yang dapat menyebabkan penyakit serius pada masa depan. Kita harus mempertimbangkan apakah ada vaksin yang benar-benar berfungsi sebagaimana tujuan asalnya.” (dr. W.C. Douglas dalam Cutting Edge, Mei 1990).

• • “Satu-satunya vaksin yang selamat adalah tidak menggunakannya sama sekali.” (dr. James A. Shannon, Institut Kesihatan Nasional, US)

• • “Vaksinasi adalah produk kesalahan dan kebodohan yang tidak dirancang dengan baik. Ia seharusnya tidak mendapat tempat dari segi kebersihan mahupun perubatan. Vaksinasi tidak ilmiah, keyakinan yang membawa maut dan mengakibatkan kesengsaraan yang berpanjangan.” (Profesor Chas Rauta, Universiti Perugia, Itali di dalam New York Medical Journal, Julai 1899).

• • “Imunisasi terhadap cacar lebih berbahaya dari pada penyakit itu sendiri.” (Profesor Ari Zuckerman, WHO).

• • “Tidak ada satupun vaksin yang telah dibuktikan keselamatannya sebelum diberikan kepada anak-anak.” (Pakar bedah umum, Leonard Scheele di Konfrensi AMA, US 1955).

Vaksin Bukan Penyelamat

Ilmu perubatan menerima pujian yang berlebihan bagi sebahagian kemajuan dalam bidang kesihatan. Ramai orang percaya keberhasilan dalam menangani penyakit menular pada abad terakhir terjadi seiring dengan penciptaan imunisasi. Sebenarnya, Kusta, Tifoid, Tetanus, Difteria, Batuk kokol, dll telah menurun sebelum ditemukan vaksin untuknya – iaitu merupakan hasil dari penjagaan kebersihan dan peningkatan kualiti makanan serta air minum.”(Dr. Andrew Weil dalam Health and Healthy)


Bahaya IMUNISASI!

Imunisasi merupakan cara terbaik untuk melindungi anak dari berbagai macam penyakit. Anda mendengar hal ini dari doktor, media massa, brosur di klinik, atau rakan-rakan anda. Tetapi, apakah Anda pernah berfikir kembali tentang tujuan imunisasi? Pernahkah anda meneliti lebih lanjut terhadap isu-isu dan cerita mengenai sisi lain imunisasi (yang tidak pernah dimaklumkan oleh doktor)?

Serangkaian imunisasi yang terus digiatkan hingga saat ini oleh pihak-pihak yang katanya demi ‘menjaga kesehatan anak’, patut dikritik dari segi kesihatan mahupun syariat. Teori pemberian vaksin yang menyatakan bahwa “memasukkan bibit penyakit yang telah dilemahkan kepada manusia akan menghasilkan pelindung berupa anti bodi tertentu untuk menahan serangan penyakit yang lebih besar”. Benarkah?

Tiga Mitos Menyesatkan
Vaksin begitu dipercayai sebagai pencegah penyakit. Hal ini tidak terlepas dari adanya 3 mitos yang sengaja disebarkan. Padahal, hal itu berlawanan dengan kenyataan.

1. Effektif melindungi manusia dari penyakit.

Kenyataan: Banyak penelitian perubatan mencatat kegagalan vaksinasi. Campak, beguk, polio, terjadi juga di pemukiman penduduk yang telah diimunisasi. Sebagai contoh, pada tahun 1989, wabak campak terjadi di sekolah yang mempunyai vaksinasi lebih besar dari 98%. WHO juga menemukan bahwa seseorang yang telah divaksin campak, mempunyai kemungkinan 15 kali ganda untuk mendapat penyakit tersebut daripada yang tidak divaksin.

2. Imunisasi merupakan sebab utama penurunan jumlah penyakit.

Kebanyakan penurunan penyakit terjadi sebelum diperkenalkan imunisasi secara menyeluruh. Salah satu buktinya, penyakit-penyakit berjangkit yang boleh membawa maut di US dan England mengalami penurunan sebesar 80%, itu terjadi sebelum ada vaksinasi. The British Association for the Advancement of Science menemukan bahawa penyakit anak-anak mengalami penurunan sebesar 90% antara 1850 dan 1940, dan hal itu terjadi jauh sebelum program imunisasi diwajibkan.

3. Imunisasi benar-benar selamat bagi anak-anak.

Yang benar, imunisasi lebih besar bahayanya. Salah satu buktinya, pada tahun1986, kongres US membentuk The National Childhood Vaccine Injury Act, yang mengakui kenyataan bahawa vaksin dapat menyebabkan cedera dan kematian.

Makhluk Mulia Vs Haiwan

Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Manusia merupakan khalifah di bumi, sehingga merupakan ashraful makhluqaat (makhluk termulia). Mengingat keunggulan fizikal, kecerdasan, dan jiwa secara hakiki, manusia mengungguli semua ciptaan Allah yang ada. Manusia merupakan makhluk unik yang dilengkapi sistem ketahanan alami yang berpotensi melawan semua mikrob, virus, serta bakteria asing dan berbahaya.

Jika manusia menjalani hidupnya sesuai petunjuk syariat yang berupa perintah dan larangan, kesihatannya akan tetap terjaga dari serangan virus, bakteria, dan kuman penyakit lainnya.

Sedangkan orang-orang kafir, menganggap adanya kekurangan dalam diri manusia sebagai ciptaan Allah, sehingga berusaha sekuat tenaga memperkuat sistem pertahanan tubuh melalui imunisasi yang bercampur najis dan penuh dengan bahaya.

Manusia merupakan makhluk yang punya banyak kelebihan. Terdapat perbezaan yang ketara antara manusia dengan haiwan. Apa yang ada padanya tidak cocok bagi haiwan, demikian juga sebaliknya. Namun, orang-orang atheis menyamakan haiwan dengan manusia, sebab mereka menganut teori evolusi manusia melalui kera yang sangat “menggelikan”.

Oleh karena itu, mereka percaya bahawa apa yang dimiliki haiwan dapat dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Jadi, sel-sel haiwan, virus, bakteria, darah, dan nanah disuntikkan ke dalam tubuh manusia. Logik setan ini adalah menjijikkan menurut Islam.

Imunisasi digembar-gemburkan sebagai suatu bentuk keajaiban pencegahan penyakit, padahal faktanya cara itu tidak lebih hanya sebagai projek penjana wang para doktor dan perniagaan farmasi. Dalam kenyataannya, imunisasi lebih banyak menyebabkan bahaya kepada kesihatan. Bahkan, mengganggu proses-proses alami yang ada dalam ciptaan-Nya. Dengan paparan ini, orang tua mana yang berasa gembira dan senang hati untuk memberikan imunisasi pada anaknya?

Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

You may also like...

28 Responses

  1. admin says:

    Saya ada 5 orang anak…kesemuanya saya mengharamkan vaksin disuntik pada mereka…alhamdullilah anak-anak saya sihat sampai hari ini..kalau sakit pun cepat sembuh. anak saya sulung umur 14 tahun dan yang bongsu sekarang 10 bulan tak pernah kami bawa jumpa doktor. Rawatan kami sebagai ibubapa cuma guna ayat -ayat Quran dan solat atau buat air tawar..Tak perlu habis duit..tak perlu habis masa…apa yang penting kita bagi mereka sumber rezeki yang halal dan bersih..gunalah sebaikmungkin kelebihan yang Allah SWT beri pada kita sebagai seorang muslim insyaAllah hidup ini akan jadi lebih selamat dan selesa. Yakinlah sebulat hati bahwa hanya Allah SWT yang boleh beri mudarat dan manafaat pada kita dan keluaraga.

  2. Nur says:

    Salam, saya ada 4 orang anak. Kesemua anak saya mendapat imunisasi yang lengkap. Alhamdulillah sehingga sekarang semuanya sihat dan tiada masalah. Anak-anak saya juga jarang bahkan setahun sekali kena demam atau flu dapat dihindari. Apa yang pasti saya mengamalkan penyusuan susu ibu sepenuhnya dari lahir sehingga usia 6 bulan dan meneruskan sehingga umur 2 tahun. Anak-anak saya juga cergas dan bijak. Apa yang penting bagi saya adalah didikan dan amalan kita dalam kehidupan seharian samaada dari segi pemakanan dan aktiviti serta jagaan kebersihan diri dan persekitaran. Kesihatan yang baik bagi saya adalah amalan kebersihan diri, rohani, pemakanan, pakaian dan segala-galanya. ALhamdulillah atas kurniaan dan hidayah Allah ini.

  3. imanurhikmah says:

    salam kpd admin,sy ingin minta pndapat dan tunjuk ajar..skrg sy mgndung,perlukah sy tidak mengambil sbrg suntikan dr doktor ketika mengandung,dan boleh kah sy menolak suntikan tersebut dan suntikan yang akan datang slps anak sy dilahirkan?adakah pihak hospital menerima untuk penolakan tersebut?adakah semua suntikan itu wajib jika anak dilahirkan hi hospital kerajaan atau swasta?

  4. imanurhikmah says:

    salammmmm…..xde org ke page nie????

  5. admin says:

    Maaf pada imanurhikmah kerana tak perasan ada soalan di sini…Saya hanya berani beri pandangan apa yang kami sekeluarga buat…Pertama sekali alhamdullilah Isteri saya faham dan mengerti tentang perkara ini….Ya masa mengandung isteri saya tak pergi ambil sbrg. suntikan pun..kadang-kadang pergi ke klinik berdekatan tapi just cek kandungan saja…misi bising tak mahu ambil suntikan tapi apa diaorang boleh buat itu hak kita dan terpulang pada kita..undang2 Malaysia tiada mewajibkan begitu…tapi..isteri jawab senang je..suami tak izin…Begitu juga lepas bersalin misi pun bising kerana tak suntik anak dan isteri jawab macam biasa suami tak izin…akhir sekali pihak klinik hubungi saya dan saya jumpa doktor yang berkenaan untuk sain satu borang atau surat pelepasan
    bahawa saya akan bertanggungjawab sekiranya berlaku perkara2 yang ditakuti oleh pihak klinik tersebut…that it.

  6. amin says:

    adakah btul apa yg di tulis ini…ada tak kajian yg membuktikan semua ini?
    Rasulullal SAW bersabda ?Allah telah menurunkan penyakit dan ubatnya, maka setiap penyakit mempunyai ubatnya. Cari dan ambillah ubat dan jangan menggunakan barang yang haram sebagai ubat? (riwayat Abu Dawud)
    dan bukankah vaksin juga sejenis ubat….???

  7. Molly says:

    Amin – buat la research – pada saya site ni sangat berguna – saya pun bermasalah lepas melahirkan anak – kena lecture dgn nurse dan dr sbb tak bagi suntik anak. saya tak tergamak nak izinkan, malah saya rasa berdosa. buka la natural health website sebagai contoh mercola.com dan baca dan nilai sendiri.

  8. sherlieanna says:

    anak sy skg umur 4&3 thn.. vaksin mmg complete tp ank sy kerap sakit dan masuk wad.. rasa bersalah sgt bila dh baca keburukan tentang vaksin ni..

  9. Nur says:

    Assalamualaikum, Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang memberi kesedaran kepada kami sekeluarga tentang bahaya vaksin dari awal.

    Kali pertama saya mengandung dan pergi check up di klinik, nurse bising dan marah sebab saya dan suami tak nak ambil suntikan vaksin. Mereka menakut-nakutkan kami dengan kemungkinan anak dalam kandungan akan dapat mudarat sekiranya tidak ambil vaksin. Sekali suami saya balas, “Itu hak kami sebagai rakyat Malaysia” maka nurse pun terdiam. Walaupun kami sudah memberitahu bahawa vaksin itu bahaya, mereka tetap mempertahankannya. Mereka bertambah marah bila saya menolak untuk melakukan ultrasound. Tuan Puan, sila buat research tentang bahaya ultrasound. Saya juga menolak untuk mengambil pil-pil yang mereka ingin beri. Jawapan suami kepada mereka, kerana pil2 yang mereka ingin beri adalah chemical. Tuan Puan, sila kaji tentang ubat-ubatan hospital. Jadi, tujuan saya pergi check up hanya untuk mendapatkan buku merah supaya bila tiba masa bersalin kakitangan hospital “kurang bising”.

    Tiba saat hampir bersalin, doktor memanggil saya untuk bertanya soalan. Doktor hairan kenapa saya tak mahu ambil vaksin, ubat-ubat hospital. Jawapan saya pada doktor. “Saya tak pasti apakah kandungan dalam vaksin dan ubat haram atau halal. Maka saya tidak akan menerima untuk dimasukkan ke dalam badan.” Doktor pun mengangguk. Doktor menakut-nakutkan saya sekiranya saya tidak ambil apa yang mereka sarankan, akan terjadi bahaya kepada saya seperti tumpah darah. Saya berkata kepada doktor,” InshaAllah perkara seperti itu tak akan terjadi. Ini semua kuasa Allah. Saya sudah jaga kandungan saya sebaik mungkin dan saya berdoa agar Allah selamatkan dan permudahkan urusan kelahiran anak.” Wahai para doktor, anda terlalu fokus kepada apa yang anda pelajari mengatakan bahaya itu dan ini, lupakah anda ini semua kuasa Allah?
    Saya dan suami juga menolak untuk dibius saat melahirkan anak. Maka para nurse di situ mengatakan “Kesian awak, suami tak bagi awk kena bius.. sakit awak..” Ingatlah para jururawat sekalian, sakit bersalin itu banyak ganjaran yang Allah nak bagi. Kalau mati, maka syahidlah si ibu. Di manakah kerugian di situ??
    Alhamdulillah anak saya selamat dilahirkan. Kami tidak benarkan anak kami menerima vaksin. Itu tanggungjawab kami sebagai ibu bapa. ALhamdulillah, anak kami sampai sekarang sihat dan cerdas.

  10. Noor says:

    Fatwa on Preventing child vaccination: Permissable?infad.usim.edu.my/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=10313

  11. Noor says:

    Yusuf Qardhawi on vaccines;

    First, it is a duty upon every Muslim to ward off harm as much as he can. He must not do something that may cause him harm or lead to his death

    Second, parents are responsible for providing their children as much as they can with all means of protection and immunity against harm and diseases in order to save them long-life suffering.

    Third, people in authority in every country are to enact laws and take actions, by means of which the health of people in general, and children in particular, is to be protected against diseases

    Fourth, things are primarily in a state of purity

    http://infad.usim.edu.my/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=10313

  12. ummu iffah izz says:

    .mna mungkin yg najis dan haram bawa begitu byk kebaikan..sy dh suntik ank sy smpai 6 bln..in sya allah..lepas ni sy xnk dah..sy kecewa dan rasa tertipu kerana tidk diberi pilihan..sy akn berjuang..sya akn cuba sebarkn mklumat ttg ini kpda ibubapa spya mrk blh buat penilaian sndiri..bila kita dah tahu tapi berdiam diri mknanya kita subahat memberi anak2 bangsa hal yg haram sejurus selepas dilahirkn.

  13. Noor says:

    Correct me if im wrong, most data given above are outdated, all data are dated in the 90’s….ini data terbaru in april 2013, measles outbreak in uk http://www.bbc.co.uk/news/uk-wales-22164296.
    Terpulang pada pendapat masing2, tp saya sebagai doktor tiada masalah dgn vaccination as disease prevention….polio almost not seen in malaysia after the vaccination, it has been eradicated…..kemungkinan measles outbreak akan berlaku di malaysia disebabkan kumpulan anti vaksinasi ini. Dont simply follow others without knowing the facts, polisi dibuat to benefit our kids…doctors bukan simply nak force patient to take medications/treatment or any procedure….bagi saya if vaccination do more harm than good, definitely ramai doctors akan refuse vaccination for their kids…tp non of my medical colleagues refuse vaccination so far….fikirlah dengan bijak dan fikirkan implikasi atas tindakan kita atas anak2 yg dikasihi

  14. Noor says:

    http://www.facebook.com/HidayahIsmawi/posts/10200878427
    833839

    Sharing another doctor’s view

    Apabila seorang doktor memberi nasihat tentang sesuatu isu yang jelas berkenaan dengan ilmu perubatan (contoh: vaksin) dengan memberikan penjelasan dan huraian berdasarkan apa yang telah dipelajarinya dia dituduh

    1) tidak yakin dengan hari kiamat atau takdir Allah
    2) menganggungkan zionis dan yahudi
    3) tidak mengendahkan jihad saudara se-Islam
    4) menyokong biological weapons musuh-musuh Islam
    5) buta mata dan buta hati

    Astaghfirullahulazim.

    Saya sedih. Bukankah kita sangat memerlukan doktor-doktor muslim yang berwibawa? Kalau begitu, mengapa bila doktor muslim berbicara tentang ilmu perubatan, kami dituduh begitu sekali? Kami juga mempunyai tanggungjawab untuk menyampaikan apa yang kami tahu. Itu antara yang akan disoal nanti. Saya tidak faham mengapa sangat susah untuk menerima pandangan doktor perubatan dalam soal ilmu perubatan sedangkan Allah berfirman

    ?فسألو اهل الذكر ان كنتم لاتعلمون? ? (Al-Anbiya, 21:7)
    ?Bertanyalah kpd yg mengetahui (ahli dlm sesuatu bidang) jika kamu tidak mengetahui!?

    Sudah tentu ilmu manusia itu terbatas tetapi tidakkah mereka yang mempelajari ilmu itu dengan mendalam dan berjuang setiap hari dalam bidang itu sekurang-kurangnya harus diberi ruang untuk berkongsi apa yang mereka pelajari?

    Sekiranya setiap ilmu “dunia” itu secara automatik dilabel sebagai tidak islamik, saya yang kofius, hati siapa yang tertutup sebenarnya.

  15. Noor says:

    Dr Rachael Dunlop
    Saturday 12 November 2011 10:15am
    8723738(1881)
    .
    A recent survey found more than two thirds of us research our medications on-line and half of us turn to ?Dr Google? for diagnosis. But how do you know the information you are getting online is accurate? Basically, you don?t. In fact studies show if you search Google for ?vaccination?, 60% of the results will not only be misleading but downright scary. In a time when vaccine-preventable diseases such as whooping cough and measles are in the news again, it?s critically important to know the facts about vaccination so that you can protect your kids and yourself.

    So, let?s take a look at some of the common myths about vaccination and why they?re wrong.

    Myth 1: Vaccines cause autism.

    No doubt you?ve heard this myth ? it?s been around for some time now. In a nutshell, there is no solid scientific evidence for a link between vaccines and autism. And believe me, science has been looking for well over 14 years. The theory that vaccines cause autism was first suggested by Andrew Wakefield in 1998. Since then, Wakefield?s paper has been discredited and withdrawn from The Lancet and Wakefield has lost his medical licence for showing ?callous disregard? for children?s welfare.

    Since 1998 there have been countless large and comprehensive studies looking for a link between vaccines and autism, but the evidence keeps coming up negative. The largest study was done in Denmark and covered all children born from January 1991 through December 1998. A total of 537,303 children of which eighty-two percent were vaccinated for MMR were examined and there was no association between vaccination and the development of autistic disorder.

    Further, in August 2011, an exhaustive review of the scientific literature by the Institute of Medicine in the US concluded that overall ?few health problems are caused by or clearly associated with vaccines?. And when I say ?exhaustive review?, I mean 12,000 peer-reviewed articles, covering eight different vaccines were pored over by a committee of 18 experts in the largest review of adverse events associated with vaccines since 1994. It was a thorough and herculean effort concluding that there is no causal relationship between vaccines and autism.

    Myth 2: Vaccines contain mercury

    Mercury was removed from all routine childhood vaccines in Australia in the year 2000 (with the exception of one type of HepB vaccine which contains trace amounts) and it was never in the MMR vaccine. Prior to 2000, thimerosal, an organomercury compound, was used in the manufacturing process of vaccines as a preservative. The process left only trace amounts in the finished product ? you ingest more mercury when you eat a can of tuna than you would ever get from a vaccine. Also there are two types of mercury ? methyl mercury is the scary environmental toxin that ?bioaccumulates? in your body, and ethyl mercury the type found in thimerosal, which does not bioaccumulate.
    If thimerosal was implicated in autism, you would expect a significant drop in cases after its removal. Instead the opposite is true ? autism rates continue to rise.

    Myth 3: Vaccines contain toxic ingredients

    Jenny McCarthy whose son was diagnosed with autism led the charge against vaccinations claiming there was a link between the condition and immunisations.
    Look anywhere on the Internet and you?ll find long scary looking lists of chemicals that anti-vaccine advocates claim are present in vaccines. Things such as anti-freeze, formaldehyde, aluminium phosphate, human fetal tissue, monkey kidney and lung cells, and most famously mercury. They also claim vaccines cause diseases such as AIDS, asthma, autism, cancers, diabetes, leukemia, lupus, SIDS, the list goes on. Many of these claims are quite simply untrue. The rest, without exception, misrepresent the facts.

    For example, some viruses are grown on cell lines in the laboratory that were obtained from aborted fetal tissue many years ago. When a virus is grown on cells like these, it is extensively purified and many steps later, prepared into a vaccine. To say there are aborted human fetus cells in the vaccine is a bit like saying there is dirt in apples since they were once grown on a tree that grew in dirt. It?s misleading, scaremongering and simply not true. As for formaldehyde, there are trace amounts of formaldehyde in vaccines but much less than what your body naturally produces everyday.

    Some vaccines do contain tiny amounts of metals like aluminium which have been used for over 80 years to increase the effectiveness of the vaccine. These are known as ?adjuvants? and work like a booster to kick start the immune system into making antibodies. But just as the ?dose makes the poison?, the concentrations of these metals are so low as to not be harmful to the body. Similarly, small doses of paracetamol cure pain but large doses have been known to cause liver failure.

    Myth 4: Vaccines have never been tested.

    All vaccines currently available in Australia must pass stringent safety testing before being approved for use by the Therapeutic Goods Administration (TGA), which is our government body responsible for regulating pharmaceuticals. Multiple clinical trials for safety and effectiveness are also performed as part of the development process (which takes anywhere between 10 to 15?years, and many millions of dollars) and safety monitoring continues for as long as the vaccine is in use.

    For example with the polio vaccine, two million kids were involved in the field trial which was conducted in the US in 1954. More recently, the safety of the new cervical cancer vaccines was studied in large-scale clinical trials involving more than 50,000 people before being licensed for use. Safety continues to be monitored after 35 million doses with the majority of side effects being fever, headache and other minor ailments.

    Like any medical procedure there are risks associated with the use of vaccines. This was brought to light in 2010 when dozens of kids suffered high temperatures and convulsions following administration of the flu vaccine. The vaccine was immediately withdrawn from use and the government commenced an investigation.

    When people claim that vaccines have ?never been tested? they usually mean that they have not undergone randomized placebo controlled trials (RCTs). To do an RCT of a vaccine you would need to take two groups of kids, give one group the vaccine, and the other a placebo, then expose both groups to the disease to see which ones survive. Raise your hand if you can see the problem here?

    Not only would such an experiment be unethical, it?s unnecessary. We have extensive evidence demonstrating the effectiveness of vaccines; the eradication of smallpox and the near-eradication of polio from the world are just two examples.

    Myth 5: Vaccines don?t work because children who are vaccinated can still get the disease.

    No vaccine is 100% effective, and since everybody?s physiology is different, not everyone will develop immunity to the same degree; a vaccine is not a force field. But while you can still breathe in a virus or pick up bacteria off a door handle, the seriousness of the disease will be significantly reduced if you have been vaccinated. In the case of pertussis or whooping cough, severe complications such as seizures and pneumonia occur almost exclusively in unvaccinated people and one in every 200 babies who contract the disease will die.

    Also, vaccine-induced and naturally acquired immunity fades over time. Notably, immunity from the whooping cough is not lifelong and infected adults, including child care workers and early years professionals, may be passing the infection on to children. This is why it is so important to get boosters if you are around young kids ? especially those who are too young to be vaccinated. If you?re a parent make sure you, the grandparents, and other relatives and friends have boosters before they get to meet baby. Talk to your GP for advice on pertussis boosters (which are free until June 2012 in Victoria).

    Myth 6: Improved living standards, not vaccination have reduced disease.

    The iron lung, the machine used to keep polio patients alive.
    The three most significant factors in the reduction of infectious disease have been clean water, sewerage systems, and vaccination. But even in isolation, vaccination has made a huge dent in reducing rates of disease. Following the introduction of the national meningococcal C immunisation program in January 2003, the number of cases decreased by 39% while numbers of people admitted to hospital with the disease was down by 47%. When the Haemophilus influenzae type B (Hib) vaccination was introduced into Australia in 1992 there was a 94% reduction in cases in children under the age of five (the most frequent illnesses caused by Hib are meningitis, septicemia and pneumonia). Yet living conditions in Australia have changed only marginally since 1992 or 2003. Vaccines have also significantly reduced suffering from the complications of infectious disease. Whilst mortality from polio was less than twenty percent, complications such as paralysis, skeletal deformities, and prolonged immobility during confinement in an iron lung caused significant suffering, all of which were eliminated by widespread vaccination.

    Myth 7: Infectious diseases are not serious; children are meant to get?them.

    Just because they?re called ?childhood diseases? doesn?t mean it?s okay for kids to get them and neither are they necessarily benign. Let?s take a look at whooping cough as an example, since Australia has been the grips of an epidemic for several years now.

    Whooping cough is much more than ?just a bad cough?. Kids often turn blue from lack of oxygen during coughing fits, they may vomit after severe attacks, and even fracture ribs. There is no cure for whooping cough ? antibiotics are given to help stop the transmission to others ? you just have to hope your immune system can fight it. Severe complications such as pneumonia and brain damage occur almost exclusively in unvaccinated people and in babies under 6 months of age the symptoms can be severe or life threatening. Whooping cough is also known as the 100-day cough making it a chronic and potentially fatal disease.

    If you still think infectious diseases are harmless, wander through your local cemetery one day and note how many children died from diseases that we no longer see in society today ? stamped out largely due to mass vaccination. Some of us are old enough to remember the images of children in iron lungs and calipers during the scourge of polio, which was wiped out by vaccination.

    Myth 8: Vaccines cause or spread the diseases they are supposed to?prevent.

    It’s easy to make vaccinations look terrifying, but they’re a child’s best friend.
    Experiencing a slight temperature and/or a sore arm after getting a vaccine is actually a good thing. While some people misinterpret this as ?getting the flu after the flu vaccine? it simply indicates that your immune system is responding. Vaccines work by priming your immune system with a part of the disease, usually inactivated particles or a fraction of the organism, so that it can make antibodies. This means next time you come across the disease in the environment your body is ready with an arsenal of antibodies to attack it before it can make you really sick.

    Vaccines are not 100% safe ? no medical intervention is without risk ? and mistakes do happen. In the 1950s in America there was a spate of cases of polio caused by the vaccine, but this was due to a mistake in the manufacturing process and was quickly corrected. Regulations, monitoring and quality control has greatly increased since that time, meaning incidents such as this are very unlikely to be repeated. The risks associated with the disease greatly outweigh the risk from a vaccine.

    Myth 9: My child?s immune system will be overwhelmed.

    Some parents worry that vaccines weaken or overwhelm the immune system, particularly when given to babies or when multiple vaccines are given at the same time. Children are exposed to many foreign particles on a daily basis through activities such as routine eating, drinking and playing and vaccines contain only a tiny number in comparison to what children encounter every day in their environment. The amount of immune challenges that children fight every day (2,000 ? 6,000) is significantly greater than the number of antigens in any combination of vaccines

  16. Noor says:

    http://www.immunise4life.my/
    Malaysia’s 1st community education programme on immunisation

  17. acap says:

    Sy bekerja di sabah dan sy lihat kesan sbb tidak diberi vaksin,kanak filipino menghidap tb,bayi bari lahir kejang otot disebab tetanus…mudah sgt para bijak pandai mencari ilmu internet dan membuat kesimpulan mudah…tawakal…

  18. Zaidi says:

    Mohon admin untuk jawab kepada Doktor Nor.
    Saya juga hairan dengan fakta yang diberikan.

    Adakah semua doktor muslim tidak mengetahui hal ini dan sengaja membiarkan umat islam terus ditipu oleh Yahudi?

  19. Anonymous says:

    admin jangan kerana kebodohan admin dalam perubatan mengheret orang dalam kebodohan itu…nanti admin jawab diakhirat atas kebodohan admin sendiri…ambil article dari sumber yang tak jelas dan salah..kemudian orang yang tak tahu apa ikut tanpa fikir..kalo nak belajar apa-apa ilmu henadakla berguru bukan baca article semata..belajar tanpa berguru ibarat belajar dengan syaitan..admin sepatut lebih fhm ini

  20. Anonymous says:

    kami dari kumpulan doktor islam sangat menentang apa yang admin lakukan…sebenarnya banyak kebaikan vaksin dari keburukan…para pembaca jangan terlalu mempercayai admin ini…kita pun tidak menganali dia dan apa sebenarnya tujuan dia..

  21. Anonymous says:

    Admin,kamu bercakap anak2 awak sihat juga sbb vaksin membantu…kerana vaksin negara kita bebas dari penyakit itu..cuba anak awak lahir sewaktu vaksin baru diperkenalkan dan awak menolak..pasti anak awak akan menderita..kalo anak awak ke negara yg lain seperti indonesia dan sebagai nya dimana vaksin belum menyeluruh baru awak tahu betapa pentingnya vaksin…jgn jadi bodoh dan jangan mengajak org lain jadi bodoh mcm awak

  22. iman says:

    maklumat yg yg baca dr fb ajer..kengkonon tak nak vaksin tapi duk melantak kfc lah..mcd lah blh pulak

  23. radzi says:

    Kpda golongan anti vaksin kurangkan bawa anak keluar…nanti berjangkit kat ank org lain lak

  24. ingin tahu says:

    Doctor2 juga mengambil vaksin kah untuk anak2 mereka??

  25. The latest Disney villain to enter the fray, Mother Gothel was a selfish and vain woman who was obsessed with
    her youthful looks. The stock market is also going through a natural correction,
    much like it did in 1939. Never worry about the reason for the split-up or the reason that started the argument, they were
    uncontrollable reasons.

  26. anonymous says:

    Ya, ni memang agenda yahudi. Apabila ramai ibu bapa yg beragama islam menolak vaksin, kemunculan pelbagai penyakit berjangkit seperti polio, measles, rubella..maka lebih ramai anak2 islam yg mengalami kecacatatn, keluar masuk hospital. Dengan itu, berjayalah agenda yahudi utk melemahkan kaum muslim – akibat kebodohan org Islam yg membenarkan agenda yahudi memusnahkan orang Islam sendiri

  27. ibu bapa anti yahudi says:

    Ya, ni memang agenda yahudi. Apabila ramai ibu bapa yg beragama islam menolak vaksin, kemunculan pelbagai penyakit berjangkit seperti polio, measles, rubella..maka lebih ramai anak2 islam yg mengalami kecacatatn, keluar masuk hospital. Dengan itu, berjayalah agenda yahudi utk melemahkan kaum muslim – akibat kebodohan org Islam yg membenarkan agenda yahudi memusnahkan orang Islam sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>